![]() |
| Pasca ambruknya jembatan di perbatasan Desa Matang |
Pasca ambruknya jembatan di perbatasan Desa Matang Guru dan Desa Lueng Sa, Kec. Madat Aceh Timur, Minggu (31/10), boat atau perahu bermotor jadi alat penyeberangan darurat bagi puluhan ribu masyarakat dari lima desa di seberang jembatan, termasuk pelajar.
Namun sebagian pelajar dilaporkan terpaksa bolos lantaran belum terbiasa melintas lewat sungai. Sementara leger jembatan yang patah sejak Senin (1/10), mulai direhab.
Pantauan Waspada, sejumlah warga sekitar secara suka rela menyiapkan dua boat ukuran sedang untuk alat tranportasi sementara atau sarana tranportasi alternatif. Warga yang ingin menyeberang ke kawasan pusat kecamatan hanya dikenakan biaya seikhlasnya untuk bahan bakar boat, terutama yang membawa sepeda motor. Sementara bagi para pelajar, guru dan pekerja sosial masyarakat lainnya gratis.
Meski demikian, sejumlah pelajar dari lima desa di seberang jembatan, antara lain Desa Matang Guru, Meunasah Tingkeum, Pantee Bayam dan Desa Meunasah Asan, yang sekolahnya berada di kawasan pusat kecamatan, dilaporkan terpaksa bolos karena tidak berani naik boat.
Bahkan, dari amatan di lapangan, ada siswi yang nekat pulang sekolah dengan bertatih-tatih dan bergantungan di sisa leger besi jembatan yang patah lantaran belum terbiasa menyeberang lewat sungai.
Di pihak lain, belasan warga Desa Matang Guru terlihat sudah mulai bekerja mencopot lantai kayu di titik jembatan patah dengan peralatan seadanya. Mereka mengaku mengambil upah dari pihak Dinas Pekerjaan Umum Aceh Timur senilai Rp1,5 juta untuk melepas papan kayu tebal tersebut. Rencananya, setelah proses pencopotan lantai selesai akan segera dibangun jembatan darurat, minimal bisa dilintasi pejalan kaki dan pengendara roda dua.
Seperti diberitakan Waspada sebelumnya, jembatan tua berleger besi di perbatasan Desa Lueng Sa dan Desa Matang Guru Kec. Madat Aceh Timur, ambruk saat dilintasi satu unit truk colt bermuatan 950 batang bibit sawit, Minggu (31/10) sekira pukul 01:00 WIB.
Tak ada korban jiwa, namun truk colt BL 9577 AA itu beserta bibit sawit di dalamnya rusak, karena kecebur dalam sungai. Selain itu, 5 desa di seberang jembatan, yakni Desa Matang Guru, Pante Bayam, Menasah Hasan, Lueng Dua dan Desa Meunasah Tingkeum, terisolir lantaran sebagian jembatan hancur total.
Kecam Sikap Pemkab
Terkait ambruknya jembatan di perbatasan Desa Lueng Sa dan Desa Matang Guru, Kec. Madat, yang membuat 5 desa terisolir, kalangan DPRK Aceh Timur dan elemen sipil, mengecam keras sikap Pemkab Aceh Timur.
Kedua elemen ini menilai Pemkab Aceh Timur selama ini lamban serta terkesan acuh menangani kerusakan jembatan Matang Guru-Lueng Sa. Padahal, sarana vital yang sudah berusia puluhan tahun itu sudah lama rusak berat, bahkan, dalam lima tahun terakhir, sedikitnya sudah merenggut empat korban jiwa.
“Musibah terakhir terjadi Senin 21 September 2009, bertepatan hari kedua Idul Fitri 1430 Hijriyah. Saat itu, Nurjamaliah, 35, ibu delapan anak, warga Desa Pantee Bayam, Madat, ditemukan tewas tenggelam setelah jatuh dari jembatan. Korban terjatuh bersama seorang bayinya dalam gendongan, tapi bayi itu berhasil diselamatkan warga,” kata Sulaiman Hamzah, anggota DPRK Aceh Timur kepada Waspada, kemarin.
Anehnya, sambung Sulaiman yang mengaku sudah meninjau langsung lokasi, meski kondisi jembatan Matang Guru-Lueng Sa sudah seperti perangkap maut, namun respon Pemkab Aceh Timur terkesan dingin. Kalaupun ada program rehab melalui Dinas Pekerjaan Umum, pengerjaannya direalisasi seadanya dengan material bawah standar pula. Alhasil, ratusan juta dana rehab yang digelontorkan jadi sia-sia,karena tak lama berselang, jembatan kembali sulit dilalui.
“Buat program penting untuk masyarakat, jangan sarat kepentingan pribadi maupun kelompok,” pungkas politisi Partai Aceh ini.
Seruan serupa juga disampaikan Ketua LSM Acheh Future, Razali. Lembaga non pemerintah ini juga menilai pemerintah, termasuk Pemprov, kurang serius memikirkan kerusakan jembatan Matang Guru-Lueng Sa. “ Selain sudah merenggut korban jiwa, sejumlah mobil dan sepeda motor warga juga sering terperosok di jembatan ini. Tapi proyek jembatan pengganti yang baru sebatas selesai tiang pondasi, malah dibiarkan terlantar selama bertahun-tahun,” katanya.
Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum Aceh Timur, Yusuf Adam yang dikonfirmasi terpisah membantah pihaknya lamban menangani kerusakan jembatan itu. “Begitu mengetahui kejadian kita langsung turunkan tim ke lapangan. Bahkan, saat ini pekerja kita sedang berusaha merehab jembatan yang rusak agar masyarakat tidak lagi terisolir,” tandasnya.

Posting Komentar